
“Emak, wanita usia lanjut yang sabar, tulus, dan penuh kebaikan hati, seperti umat Islam lainnya, sangat ingin menunaikan ibadah haji. Sayangnya, Emak tidak memiliki biaya untuk mewujudkan keinginannya. Emak sehari-hari berjualan kue dan juga dari Zein, anaknya yang duda, penjual lukisan keliling. Walaupun Emak tahu bahwa pergi haji adalah hal yang sulit diraih, Emak tidak putus asa, dia tetap mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk disetorkan ke tabungan haji di bank. Zein, yang melihat kegigihan Emak, berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mewujudkan keinginan Emak. Tapi, keterbatasannya sebagai penjual lukisan keliling, serta masalah-masalah yang diwarisinya dari perkimpoiannya yang gagal, menyebabkan Zein hampir-hampir putus asa dan nekat. Sementara, tetangga Emak yang kaya raya sudah beberapa kali menunaikan haji, apalagi pergi umroh. Di tempat lain ada orang berniat menunaikan haji hanya untuk kepentingan politik
Apakah ada jalan bagi Emak agar keinginannya terwujud? Apakah yang dilakukan Zein? Diwarnai berbagai drama yang saling jalin-berkelindan, film ini berkisah tentang ketulusan hati dan kerinduan kepada Tuhan, serta kecintaan luar biasa seorang anak kepada ibunya”
Itulah sedikit kutipan dari sinopsis film Emak ingin naik haji, sebuah film yang diangkat dari cerpen karya Asma Nadia yang kalo bisa dibilang, simple, tapi sangat mengena. Memang belum baca sih bukunya, filmnya pun belum nonton, tapi melihat sinopsis dan trailer film-nya, sudah bisa bikin hati terharu.. Pesan moral yang terkandung di dalamnya sangat terasa..
Berdekatan dengan film ini diputar juga film yang judulnya 2012, film tentang kiamat gitu deh.. banyak banget yang berbondong-bondong mengantri pengen menonton film itu, tp bener-bener deh.. kurasa mendingan nonton Emak ingin naik haji daripada 2012, lebih ada manfaatnya -yah at least menurut diriku-
“Labaik Allah huma labaik, labaik sarikalakala labaik, inal hamda wanikmata laka wal mulk la sarikala”
wallahu a’lam